Kiprah Tanoto Foundation Dalam Memangkas Kasus Stunting Anak Indonesia

Kiprah Tanoto Foundation Dalam Memangkas Kasus Stunting Anak Indonesia

Sumber foto: Tanoto Foundation

https://tanotofoundation.org/id/news/cegah-stunting-untuk-generasi-masa-depan-yang-berkualitas/

Kasus stunting yang menimpa anak-anak Indonesia terbilang masih tinggi. Fakta mengenaskan inilah yang hendak diubah oleh Tanoto Foundation. Mereka melakukan beragam upaya untuk menghilangkannya.

Stunting ialah kondisi gagal tumbuh pada anak balita akibat kekurangan gizi kronis. Masalah ini sering terjadi pada fase seribu hari pertama kehidupan anak. Kalau itu terjadi, perkembangan anak akan terhambat. Bukan cuma fisik, pertumbuhan otak juga terganggu.

            Sayang sekali, kasus stunting masih marak dijumpai di Indonesia. Riset Kesehatan Dasar 2018 yang dirilis  Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan RI menemukan bahwa ada sekitar 10 juta anak Indonesia yang mengalaminya..

Jumlah tersebut mencapai 30,8% dari total anak-anak di negeri kita. Padahal, batas toleransi kasus stunting di satu negara idealnya ada di bawah 20 persen. Tentu kondisi di Indonesia harus segera diubah.

Beragam upaya telah dilakukan berbagai pihak. Buahnya kasus stunting di Indonesia cenderung menurun. Terlihat, kalau dibandingkan pada tahun 2013, anak yang mengalami stunting pada 2018 turun sekitar 6,4 persen. Meski begitu, hasil tersebut belum maksimal. Stunting harus dihilangkan agar anak-anak mampu meraih potensi terbaiknya.

Secara khusus Tanoto Foundation memang menaruh perhatian besar terhadap stunting. Yayasan sosial yang didirikan oleh pengusaha Sukanto Tanoto ini malah sengaja mematok target untuk mendukung penurunan kasus stunting di Indonesia supaya berada di bawah 20 persen pada 2030 nanti.

Target itu dibuat karena Tanoto Foundation tahu bahwa stunting tidak bisa diselesaikan oleh pemerintah sendirian. Uluran tangan berbagai pihak mulai dari swasta dan yayasan sosial seperti mereka sangat dibutuhkan.

Oleh sebab itu, Tanoto Foundation langsung membuat berbagai langkah untuk menekan kasus stunting. Mereka menggulirkan program khusus yang dinamai SIGAP. Bisa diartikan sebagai energik dan siap untuk mengambil tindakan, SIGAP menjadi panduan bagi Tanoto Foundation dalam bekerja bersama mitra yang kredibel di tingkat subnasional, nasional, dan regional untuk membawa dampak kepada anak usia 0 hingga 6 tahun.

Program ini diselaraskan dengan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan yang dicanangkan oleh PBB. Tujuannya untuk memastikan bahwa semua anak memiliki akses terhadap pengembangan anak usia dini yang berkualitas, perawatan, dan pendidikan pra-sekolah dasar. Pada akhirnya itu akan membuat anak siap untuk mengikuti pendidikan dasar.

“Mulai tahun 2018 ini, strategi Tanoto Foundation dalam upaya pencegahan dan penurunan stunting adalah berkontribusi untuk tercapainya Tujuan Pembangunan Berkelanjutan, khususnya Tujuan 2.2 (Mengurangi Balita kurang gizi dengan pemberian makanan yang bernutrisi, layanan kesehatan dan perilaku sehat) dan Tujuan 4.2 ( Meningkatkan persentase anak di bawah usia 6 tahun dari keluarga berpenghasilan rendah untuk mendapatkan layanan PAUD berkualitas sehingga siap untuk masuk ke pendidikan dasar),” kata CEO Global Tanoto Foundation Satrijo Tanudjojo.

Karena itu, Tanoto Foundation membuka pintu kerja sama dengan berbagai pihak untuk menekan stunting. Salah satunya dilakukan bersama Kantor Staf Presiden (KSP) dan Tim Nasional Percepatan Penanggulangan Kemiskinan (TNP2K).

Mereka berkolaborasi untuk menggelar Pelatihan Duta Cegah Stunting. Ini adalah kemitraan dengan banyak pihak. Di sana KSP dan TNP2K bertindak sebagai fasilitator bagi Tanoto Foundation untuk menjalin  kemitraan dengan empat Organisasi Masyarakat Sipil, yaitu Save The Children, Indonesia Heritage Foundation, Kopernik,  dan Lazismu. Nanti keempat organisasi tersebut yang menjadi mitra lapangan untuk menjalankan program pencegahan stunting di masyarakat sampai ke tingkat posyandu.

Pelatihan Duta Cegah Stunting dilaksanakan di berbagai daerah. Salah satunya di Cianjur pada November 2018. Saat itu ada 500 kader Posyandu yang mendapat pelatihan. Diharapkan setelahnya mereka akan mampu aktif melakukan berbagai upaya mencegah stunting di 160 wilayah berbeda.

EDUKASI PEMANFAATAN ASI

EDUKASI PEMANFAATAN ASI

Sumber foto: Tanoto Foundation

https://tanotofoundation.org/id/news/cegah-stunting-dengan-asi-ekslusif

Adapun contoh materi pelatihan ialah berupa pengetahuan tentang manfaat Air Susu Ibu (ASI)  bagi bayi dan anak. Para Duta Cegah Stunting diharapkan memberi edukasi kepada masyarakat supaya menggalakkan penggunaan ASI. Misalnya mendorong ibu untuk memberi ASI sebagai nutrisi eksklusif untuk bayi sampai setidaknya berumur enam bulan.

Hal ini penting karena ternyata kesadaran dalam pemanfaatan ASI di Indonesia masih rendah. Padahal, di lain sisi World Health Organization (WHO) mematok target menyusui eksklusif dunia pada 2050 sudah mencapai 50 persen.

Menurut catatan Tanoto Foundation, Indonesia masih kesulitan menggapai target tersebut. Disebutkan bahwa agar bisa selaras dengan target WHO harus ada kenaikan pemanfaatan ASI sebesar 12,8 persen selama enam tahun.

Manfaat ASI memang tidak bisa diremehkan. Di dalamnya terdapat gizi lengkap yang mudah dicerna oleh perut bayi yang masih sensitif. Oleh karena itu, seharusnya bayi dari nol hingga enam bulan cukup diberi asupan ASI.

Namun, kondisi yang terjadi tidak seperti itu. Bayi malah kerap diberi asupan makanan lain. Akibatnya bayi lebih tertarik ke makanan tersebut. Jika itu terjadi, risiko terkena stunting justru akan membesar. Pasalnya bayi kehilangan nutrisi penting yang dapat diperoleh dari ASI.

Selain membuat pelatihan Duta Cegah Stunting, Tanoto Foundation juga melakukan upaya lain dalam memberantas stunting. Salah satunya dengan aktif memberi dukungan terhadap beberapa riset ilmiah yang berkaitan dengan kasus tersebut.

Diharapkan nanti hasil penelitian akan memberi manfaat besar. Misalnya bakal mampu mengungkap akar penyebab kasus stunting atau malah menemukan strategi untuk melakukan upaya pencegahan yang terbaik.

Beberapa upaya tersebut diharapkan akan bisa menekan kasus stunting. Jangan sampai anak Indonesia mengalaminya. Pasalnya, banyak kerugian yang akan dirasakan jika anak terkena stunting. Contohnya anak lebih gampang sakit, kemampuan otaknya kurang maksimal, hingga mengalami problem kesuburan ketika dewasa nanti.

Ketiga hal tersebut belum apa-apa. Jika mengalami stunting, risiko untuk terjebak dalam kemiskinan membesar. Itu disebabkan karena kemampuan fisik maupun psikis anak akan lebih rendah dibanding yang lain. Akibatnya daya saingnya jadi rendah.

Tidak aneh stunting akhirnya menjadi perhatian khusus Tanoto Foundation. Mereka memfokuskannya sebagai dukungan terhadap tekad pendirinya, Sukanto Tanoto, untuk menghapus kemiskinan di Indonesia.

Sukanto Tanoto bermimpi semua rakyat Indonesia bisa terbebas dari jerat kemiskinan. Ia percaya hal tersebut dapat diraih dengan peningkatan kualitas hidup, pendidikan yang berkualitas, serta pemberdayaan masyarakat. Ketiga hal itu akhirnya menjadi fokus kegiatan Tanoto Foundation.

“Oleh karena itu, Tanoto Foundation bekerja sama dengan masyarakat dan mitra-mitra lainnya untuk mengatasi akar penyebab kemiskinan. Kami memfokuskan kegiatan kami di daerah pedesaan, di mana kemiskinan masih banyak ditemukan,” kata Sukanto Tanoto.

Stunting akan menghambat upaya mengentaskan rakyat Indonesia dari kemiskinan. Oleh sebab itu, penanganan serius memang harus dilakukan. Berbagai upaya yang dijalankan oleh Tanoto Foundation seperti program SIGAP menjadi langkah nyata.

Sampai sekarang program SIGAP terlihat sukses. Ini membuat Tanoto Foundation semakin bersemangat. Mereka akan terus melakukan langkah terbaik guna menurunkan angka stunting.

“Walaupun kegiatan Tanoto Foundation telah memberikan dampak positif kepada ribuan penerima manfaat, kami tetap berkomitmen untuk menjangkau dan membantu lebih banyak anggota masyarakat lagi dalam mendukung upaya penanggulangan kemiskinan,” tegas Sukanto Tanoto.